Dan aku tahu kau masih tidak peduli. . .
Masih enggan beranjak dari peraduanmu yang manja dalam dekapan selimut hangat. Menulikan telingamu atas kerepotan anakmu yang mesti sekolah dan segera berangkat.
Kita kini adalah utara dan selatan. Cuma sesekali berjumpa di ekuator, bersatu dalam gelombang panas. Selebihnya kita berjauhan, sibuk dengan dunia masing-masing. Bagimu aku amat cerewet tiada tandingan. Dan bagiku kau egois bukan kepalang.
Aku marah dan sedih di saat yang sama. Sampai ku rasakan airmataku berubah menjadi darah. Tapi aku masih tau dalam satu dekade, perlahan rutinitas ini menenggelamkan kita.
Sekali waktu kau juga kerap mengkritisi sepak terjangku di dapur. Dan aku mulai mengeluhkan ketidakpedulianmu yang mulai sering mengecewakanku.
Sampai aku sadari, cinta tak lagi mencukupi kita. . .
Cinta tak lagi mencukupi kita. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar