Minggu, 29 Desember 2013

Tak Seperti Mimpi

Meski ku tahu kita berdua dan bersama, tapi aku juga sadar bahwa kita tak pernah sama.

Kau, aku, kini melangkah berlainan arah dan aku telah lama tersesat di tengah belantara kebimbangan ini.

Mungkin. . .
Kau bukan lagi orang yang dapat ku percayai, saat semakin aku sadari apa yang kita alami tak pernah seindah mimpi. . .

Kamis, 12 Desember 2013

CINTA TAK LAGI MENCUKUPI KITA

Biar ku remukkan sendi-sendi hari dengan keperempuananku yang meradang. Membakar matahari yang nyalang menyalak siang.

Dan aku tahu kau masih tidak peduli. . .
Masih enggan beranjak dari peraduanmu yang manja dalam dekapan selimut hangat. Menulikan telingamu atas kerepotan anakmu yang mesti sekolah dan segera berangkat.

Kita kini adalah utara dan selatan. Cuma sesekali berjumpa di ekuator, bersatu dalam gelombang panas. Selebihnya kita berjauhan, sibuk dengan dunia masing-masing. Bagimu aku amat cerewet tiada tandingan. Dan bagiku kau egois bukan kepalang.

Aku marah dan sedih di saat yang sama. Sampai ku rasakan airmataku berubah menjadi darah. Tapi aku masih tau dalam satu dekade, perlahan rutinitas ini menenggelamkan kita.

Sekali waktu kau juga kerap mengkritisi sepak terjangku di dapur. Dan aku mulai mengeluhkan ketidakpedulianmu yang mulai sering mengecewakanku.

Sampai aku sadari, cinta tak lagi mencukupi kita. . .

Cinta tak lagi mencukupi kita. . .

Sabtu, 09 November 2013

SEMU. . .

Aku tak tahu seperti apa masa depan itu?

Apakah ia indah seperti bunga musim semi? Atau barangkali menyeramkan seperti musim dingin tanpa matahari?

Hidup masih kerap mencemaskan hal-hal yang tak pasti. Sering dibuai mimpi dan idealisme kosong. Sementara jalan yang dilalui tak pernah berhenti menyebar ranting berduri.

Melukai kaki, mendarahkan sejuta mata luka. . .

Selasa, 05 November 2013

Terasa ingin menyerah, ingin marah. Belulang seakan lari dari persendian, menyisakan gemeretak di tulang belakang. Penat merajam diri didera aktivitas sehari-hari.

Sampai ku temukan malam sehingga dapat ku sembunyikan tangisan. Seperti warna harapan yang dilindas kegelapan. Mungkinkah masih ada masa depan?

Apa yang ku tak dapat melupakan, adalah kenangan dan segala luka masa lalu masih kerap merubung mendung di pelupuk mataku. Menjelma hujan, membadai berderai-derai.

Apa yang dapat kau pastikan? Apakah sekadar mimpi yang masih setia kau hiasi, melupakan realita yang masih kerap memberi airmata. . .

Apa kau akan marah bila aku kini telah lelah. Biarkan aku sejenak menjemput jeda. Laksana tanda koma di pertengahan kata. Dan seperti titik di akhir cerita; mencari makna. . .

Selasa, 22 Oktober 2013

Satu Malam Jelang Lebaran Haji

Bunga menghentak-hentakkan kakinya yang berselop ke lantai semen ruko tempatnya berdiri sekarang. Dari raut wajahnya membayang kegelisahan, berkali-kali ia melihat layar telepon genggamnya. Baru lepas pukul 8 malam, dan panggilan atau sms masuk yang ia tunggu belum diterima.

Ia teringat telepon ibunya seminggu yang lalu, Rindu merindukannya, ia harus pulang ke kampungnya segera. Ah. . . Pulang, andai ia punya uang. Lagi-lagi perkara kertas bergambar itu.

Ia mondar-mandir memandang sekeliling, semua toko sudah tutup, menyisakan sampah di got yang tersumbat dan tepian jalan rusak berlubang-lubang. Di seberang jalan ada warung reyot penjual jamu seduhan dan beberapa wanita yang bernasib sama serupa dia. Di pinggiran trotoar dipenuhi pedagang bunga dadakan yang mengais rejeki dari rupiah para peziarah esok sepulang salat ied.

Bunga tersandar di dinding toko yang dingin dan berdebu itu. Sesekali mengibaskan kaki jenjangnya yang hanya terbalut celana jins ketat dan pendek yang digerayangi nyamuk. Tanktopnya yang berwarna merah dan berbahan kain tipis masih membuatnya kepanasan. Oktober kali ini memang pelit hujan. Ia semakin gelisah dan merangkum rambutnya dalam satu ikatan serta merta berkipas dengan sapu tangan.

Sayup terdengar kumandang takbir, meningkahi suara tawa wanita di warung jamu di seberang jalan. Bunga membungkuk, duduk dan berselonjor kaki di atas lantai ubin yang kotor. Nyaris satu jam ia menunggu, sebuah nomor tanpa nama menjanjikan bertemu di tempat ini seperti biasa. Saat ia coba hubungi, terdengar nada telpon tak diaktifkan.

Bunga mafhum, barangkali ia lelaki yang takut ketahuan pasangan sahnya bahwa berani kencan kilat dengan Bunga.

Sementara pemulung sibuk dengan gerobak dan karung-karung kotor, mengais gunungan sampah, baunya menguar menodai udara bercampur aroma bunga dari trotoar sebelah sana.

Sekian menit berlalu, tepat pukul 8.30 malam itu, sebuah Jazz putih menepi tepat di depan ruko tempat Bunga duduk mematung. Pengemudi sekaligus penumpang satu-satunya membukakan pintu mobil.

"Ayo, masuk, maaf membuatmu menunggu." Kata pria muda itu sopan. Bunga segera menghempaskan pantatnya di jok mobil yang empuk itu, sambil setengah mendengus kesal menyapu butiran keringat di keningnya.

"Kok lama sih mas? Untung ini malam hari raya, sepi, kalo gak aku pasti udah sama bang ojek di perempatan itu." Cetus bunga cuek. Mobil itu pun melaju perlahan.

Udara segar dari AC segera membuat kekesalan Bunga sirna, wangi Aftershave dari pria di sampingnya mendominasi ruangan mobil, rasanya itu pria terklimis dan terrapih yang pernah ia temui. Dengan stelan kantoran, jas yang ia lepaskan dan kemeja tanpa dasi dengan lengan tergulung asal sebatas siku, pria itu santai membelokkan mobilnya menuju sebuah losmen.


00.12 malam.

"Rindu sayang, ibu pulang malam ini."

Bunga mengirim pesan singkat pada gadis kecilnya yang masih berusia 5 tahun yang ia tinggal bersama ibunya yang telah tua. Ia pulang membawa bungkusan plastik berisi baju baru untuk Rindu dan beberapa keperluan dapur untuk ibunya. Juga beberapa lembar rupiah dari mas Pram yang masih terlelap di losmen, usai menuntaskan 'negosiasi bisnis' dengannya satu jam yang lalu.


Kisah lainnya:
Sebuah Malam di Jalanan
Hari-hari Ariana
Surat Buat Bapak
Di Sebuah Gang

Selasa, 08 Oktober 2013

RINDU PERAWAN

Senyummu masih segar, dan kerinduan segera ingar bingar.
Menyerang hati, berderap-derap, berdentam-dentam memukul kelam.
Menyulam langit malam dengan putih perawan sinar bulan.
Dan pelangi bidadari yang berkaca di tepi kali.

Sementara mataku masih nyalang pada langit kamar usang.
Ada bayangmu yang hampiri bibir mimpi.
Mencumbu sepi. . .
Saat kerinduan menjadi gaung tertahan.
Di pelukan senja kita belajar mengeja cinta. .